Ad

Pelatihan Pertanian Berbasis Input Organik Dorong Petani Budi Rahayu Jaga Kesehatan Tanah

Nayra Shafana
 Kelompok Tani Budi Rahayu, Desa Catur, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. (Foto: Dok/Ist).

Poros Merdeka, Boyolali – Kelompok Tani Budi Rahayu, Desa Catur, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, mengikuti pelatihan praktik pertanian dengan input organik untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai pentingnya menjaga kesehatan tanah, Kamis (4/9/2026).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa kelompok MBKM Berdampaak Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan menggandeng CV Kans Indonesia serta Nature’s Boost sebagai startup penyedia input pertanian organik. Pelatihan menghadirkan Ir. Angelo Di Lorenzo, S.P. sebagai narasumber.

Kegiatan ini bertujuan mendorong petani agar dapat menerapkan praktik pertanian yang lebih sehat dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan tanah. Dalam pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak memahami prinsip pemupukan dan pengelolaan tanah melalui pendekatan yang lebih aplikatif.

Materi diawali dengan pembahasan mengenai kebutuhan unsur hara pada tanah. Narasumber menunjukkan grafik kebutuhan hara tanaman dan menjelaskannya melalui Hukum Minimum Liebig, yang mengilustrasikan bahwa pertumbuhan tanaman dapat terhambat apabila salah satu unsur yang dibutuhkan berada dalam kondisi tidak mencukupi.

Selain membahas kebutuhan hara, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pupuk organik cair (POC) serta pemanfaatan sejumlah agen hayati sebagai alternatif pengendalian hama secara organik.

Antusiasme petani terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama kegiatan. Para petani turut menceritakan kondisi lahan yang mereka hadapi, termasuk keluhan mengenai kesehatan tanah yang dinilai kurang baik jika dibandingkan dengan wilayah pertanian lainnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Nature’s Boost turut memberikan produk input pertanian organik kepada petani untuk dicoba secara langsung sebagai salah satu alternatif dalam mendukung perbaikan kondisi tanah dan praktik pertanian yang lebih sehat.

Dalam penyampaiannya, Ir. Angelo Di Lorenzo menekankan bahwa penggunaan pupuk kimia tidak serta-merta berarti buruk bagi tanaman. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah pemupukan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah.

“Pupuk kimia bukan berarti tidak baik untuk tanaman, tetapi pemupukan yang seimbang akan lebih baik,” ujar Angelo dalam kegiatan tersebut.

Melalui pelatihan ini, petani diharapkan tidak hanya memahami penggunaan input pertanian organik, tetapi juga mampu melihat kondisi tanah sebagai bagian penting dari keberlanjutan usaha pertanian. Kolaborasi antara mahasiswa, mitra pendamping, dan startup penyedia input pertanian tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi petani untuk mencoba pendekatan pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga

Tersalin!
Ad