![]() |
| Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok/Ist). |
Poros Merdeka, Jakarta — Pemerintah Indonesia mulai mengarahkan pengembangan sektor emas menuju ekosistem yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Strategi tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi emas, tetapi juga memperkuat proses pemurnian, manufaktur, perdagangan, jasa keuangan, investasi dan sistem pelacakan asal-usul emas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pengembangan bullion menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi yang sedang dijalankan pemerintah.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar. Namun, tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana membangun ekosistem yang utuh sehingga sumber daya tersebut mampu memberikan nilai tambah lebih tinggi.
"Bulion ini menjadi sesuatu yang diandalkan ke depan, terutama untuk meningkatkan nilai tambah daripada hilirisasi di sektor pertambangan dan energi," kata Airlangga.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai sektor emas memiliki salah satu ekosistem paling lengkap di Indonesia. Rantai tersebut mencakup pertambangan, refinery, manufaktur, lembaga jasa keuangan, produk investasi, perdagangan hingga industri perhiasan.
Traceability Jadi Kunci
Salah satu agenda penting dalam pengembangan pasar emas Indonesia adalah membangun sistem traceability.
Pemerintah mendorong IBMA untuk memperkuat gold registry dan Indonesia Gold Traceability System.
Sistem tersebut diharapkan mampu memberikan informasi yang lebih jelas mengenai rantai pasok emas, mulai dari sumber bahan baku hingga proses pengolahan dan perdagangan.
Transparansi menjadi semakin penting karena pasar emas global semakin memperhatikan aspek tata kelola, asal-usul komoditas dan prinsip responsible sourcing.
Karena itu, standardisasi Responsible Gold juga menjadi salah satu agenda yang didorong pemerintah.
Selain memperkuat kepercayaan pasar domestik, sistem traceability dapat menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing komoditas emas di pasar internasional.
Integrasi dari Tambang hingga Perdagangan
Pengembangan bullion juga diarahkan untuk menghubungkan sektor pertambangan dengan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Emas yang berasal dari sektor pertambangan dapat masuk ke proses refinery, kemudian diproduksi menjadi berbagai produk manufaktur, perhiasan maupun instrumen investasi.
Pada sisi keuangan, emas juga dapat menjadi bagian dari produk bullion dan instrumen investasi seperti ETF emas. Kemenko Perekonomian sebelumnya mencatat bahwa pengembangan ETF emas menjadi salah satu bagian dari penguatan ekosistem bullion Indonesia.
Pemerintah juga mendorong pembangunan arsitektur pasar emas yang mencakup perdagangan fisik, bursa komoditas, kliring dan settlement.
Dengan integrasi tersebut, pembentukan harga emas di Indonesia diharapkan semakin transparan.
Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang direncanakan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 diarahkan untuk memperkuat proses price discovery dan pembentukan Indonesia Reference Price.
Indonesia Punya Peluang Besar
Penguatan hilirisasi emas memberikan peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih besar dari sumber daya alam yang dimiliki.
Tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, ekosistem bullion juga dapat memperluas aktivitas industri, memperkuat sektor jasa keuangan dan membuka peluang investasi.
Karena itu, pemerintah menilai pengembangan bullion dan IBMA harus dilakukan secara berkesinambungan.
Airlangga berharap seluruh stakeholder dapat berkolaborasi untuk memperkuat ekosistem tersebut dari hulu sampai hilir.
Dengan fondasi regulasi yang semakin terbentuk, pengelolaan emas nasional kini memasuki fase baru: bukan hanya bagaimana menambang emas, tetapi bagaimana memastikan setiap tahapan pengelolaannya mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
