![]() |
| Muhammad Ridwan Monisa, Peneliti HIV dalam Perspektif Epidemiologi. (Foto: Dok/Ist). |
Poros Merdeka, Kolom - Bagi Muhammad Ridwan Monisa, pendidikan bukan sekadar rangkaian jenjang yang harus diselesaikan, tetapi proses untuk membangun cara berpikir dan menemukan bidang yang ingin terus dikembangkan.
Ketertarikannya pada dunia akademik tumbuh dari pengalaman yang beragam. Sejak pendidikan kedokteran, ia telah berhadapan dengan penelitian biomedik eksperimental menggunakan mencit. Pengalaman tersebut menjadi titik awal untuk mengenal penelitian sebagai bagian dari proses memahami persoalan secara ilmiah.
Ketika kemudian memperluas pendidikan ke bidang kesehatan masyarakat dengan fokus epidemiologi dan biostatistik, perspektif tersebut berkembang. Pengalaman klinis yang sebelumnya berpusat pada individu mulai dipadukan dengan cara pandang yang lebih luas terhadap populasi, faktor risiko, serta sistem pelayanan kesehatan.
HIV menjadi salah satu bidang yang mempertemukan berbagai pengalaman tersebut. Keterlibatan dalam pendampingan orang dengan HIV memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan tidak selalu dapat dipahami hanya dari sisi medis. Di dalamnya terdapat persoalan akses, stigma, perilaku, lingkungan sosial, hingga kemampuan sistem pelayanan menjangkau masyarakat.
Dari pengalaman tersebut muncul ketertarikan untuk menjadikan persoalan di lapangan sebagai bahan penelitian. Penelitian tesis mengenai HIV menjadi salah satu proses penting dalam membangun arah akademiknya, sekaligus memperkuat ketertarikannya pada penelitian yang memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan pelayanan.
Pengalaman di Pegunungan Bintang kemudian memberikan perspektif yang berbeda. Berada di wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya memperlihatkan bahwa pengetahuan yang diperoleh di ruang akademik perlu dipahami kembali ketika diterapkan pada kondisi lapangan yang berbeda.
Dalam proses membangun kapasitas akademik tersebut, Ridwan juga memperoleh kesempatan dan dukungan dari lingkungan akademik. Salah satunya melalui kepercayaan dan rekomendasi Prof. Ari yang membuka ruang bagi dirinya untuk terus mengembangkan pengalaman dalam bidang akademik dan penelitian.
Bagi Ridwan, kesempatan tersebut bukan sekadar pencapaian personal, tetapi menjadi dorongan untuk membangun kapasitas yang lebih panjang. Ia melihat bahwa seorang akademisi perlu terus belajar, menghasilkan penelitian, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata yang ditemukan di masyarakat.
Ketertarikan tersebut juga mulai diwujudkan melalui publikasi ilmiah. Pada 2026, ia terlibat dalam publikasi mengenai kasus kejang neonatorum akibat hypoxic ischemic encephalopathy pada bayi cukup bulan di Jurnal Kesehatan Republik Indonesia.
Pengalaman penelitian, publikasi, pendidikan, serta keterlibatan di lapangan kemudian membentuk satu arah yang semakin jelas: membangun kapasitas sebagai tenaga kesehatan yang tidak hanya memahami praktik klinis, tetapi juga mampu membaca persoalan melalui pendekatan ilmiah.
Dengan fondasi tersebut, Ridwan ingin terus mengembangkan diri dalam dunia akademik dan penelitian. Bukan hanya untuk menambah capaian akademik, tetapi untuk menghasilkan pengetahuan yang relevan, membangun kolaborasi, dan memberikan kontribusi yang dapat digunakan untuk memahami persoalan kesehatan secara lebih baik.
*) Penulis adalah Muhammad Ridwan Monisa, Peneliti HIV dalam Perspektif Epidemiologi.
