![]() |
| Mahasiswa KKN-T IBDU 3 UNDIP bersama pemuda Karang Taruna Dusun Jurug dalam kegiatan “Ayo Wates Menulis”. (Foto: Dok/Ist). |
Program ini diinisiasi oleh mahasiswa KKN-T IBDU 3 UNDIP yang terdiri atas Delviola Chindy Aulia, Arla Inaya, Puti Zaskia Veronika, Loveo Rose Zoya Siregar, dan Ika Nofitasari dari Program Studi Sejarah, Nashwa Rifa Putri Hidayat dari Antropologi Sosial, serta Mega Dwi Irianti dari Teknik Geologi. Kegiatan menyasar remaja yang tergabung dalam Karang Taruna Jurug sebagai ruang untuk membangun minat literasi sekaligus mendorong mereka mendokumentasikan pengalaman, pemikiran, dan harapan melalui tulisan.
Program ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam upaya menumbuhkan keterampilan literasi dan berpikir kritis di kalangan remaja desa melalui jalur pendidikan nonformal yang inklusif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, program ini juga sejalan dengan semangat SDG 11: Sustainable Cities and Communities, karena mendorong pelestarian sejarah dan identitas lokal Dusun Jurug melalui pengarsipan pengetahuan masyarakat secara berkelanjutan.
Menulis sebagai Arsip Kehidupan Masyarakat
"Ayo Wates Menulis" berangkat dari gagasan bahwa tulisan tidak hanya menjadi sarana untuk menyampaikan informasi, tetapi juga dapat menjadi bentuk arsip kehidupan masyarakat. Cerita, pengalaman, keresahan, maupun cita-cita remaja yang dituangkan dalam tulisan dapat menjadi rekam jejak mengenai bagaimana generasi muda Desa Wates melihat lingkungan dan kehidupannya pada masa kini.
Kegiatan diawali dengan pengenalan sederhana mengenai menulis sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Para peserta kemudian diajak melakukan brainstorming untuk menemukan ide yang dekat dengan kehidupan mereka. Alih-alih memberikan tema yang terlalu kaku, peserta diarahkan untuk menggali pengalaman dan pemikiran pribadi, khususnya mengenai kehidupan remaja saat ini.
Salah satu fokus brainstorming adalah perjuangan dan harapan remaja. Peserta diajak memikirkan berbagai hal yang mereka hadapi sebagai generasi muda, mulai dari pendidikan, hubungan dengan lingkungan sekitar, perkembangan teknologi dan media sosial, hingga impian mereka di masa depan. Dari proses tersebut, peserta diajak melihat bahwa setiap remaja memiliki cerita yang layak untuk didengar dan setiap pengalaman dapat menjadi bahan untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan.
Proses tersebut juga menunjukkan bahwa menulis tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang dialami sehari-hari dapat menjadi sebuah cerita. Keresahan dapat dikembangkan menjadi tulisan reflektif, pengalaman dapat dituangkan dalam cerita, sementara harapan dapat menjadi gagasan yang membuka ruang diskusi mengenai kehidupan generasi muda di Desa Wates.
Menemukan Benih Penelitian dari Pemuda Dusun Jurug
Namun, kegiatan "Ayo Wates Menulis" tidak berhenti pada proses menghasilkan tulisan. Diskusi bersama Karang Taruna Jurug justru memperlihatkan bahwa budaya literasi dan pengarsipan telah mulai tumbuh dari inisiatif pemuda setempat. Para mahasiswa KKN menemukan bahwa pemuda Dusun Jurug telah memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan upaya mendokumentasikan asal-usul dusun.
Hal tersebut salah satunya terlihat dari keberadaan kelompok penelitian mikro yang digerakkan oleh pemuda setempat. Salah satu anggota kelompok tersebut, Wahyu Aji, telah melakukan penelitian mengenai asal-usul Dusun Jurug selama kurang lebih satu tahun. Proses penelitian tersebut menunjukkan adanya potensi lokal yang dapat terus dikembangkan, terutama dalam mengumpulkan informasi sejarah, menggali cerita dari masyarakat, serta menyusun hasil penelitian menjadi tulisan yang dapat diakses oleh generasi berikutnya.
Temuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam arah keberlanjutan "Ayo Wates Menulis". Program ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan yang telah berjalan di masyarakat, melainkan menjadi pemantik untuk memperkuat kebiasaan menulis, mendokumentasikan informasi, dan mengembangkan penelitian yang telah dirintis oleh pemuda Dusun Jurug.
Harapan Keberlanjutan bagi Generasi Muda Desa
Ke depan, potensi kelompok penelitian mikro tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang belajar bersama bagi pemuda untuk melakukan penelitian sederhana mengenai lingkungan dan kehidupan Dusun Jurug. Pengalaman sehari-hari, cerita dari tokoh masyarakat, sejarah dusun, kesenian, tradisi, maupun berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber tulisan sekaligus bahan arsip bagi masyarakat.
Dengan demikian, tulisan tidak hanya dipandang sebagai hasil akhir sebuah kegiatan, tetapi sebagai proses untuk mengumpulkan pengetahuan dari masyarakat dan mengembalikannya kepada masyarakat dalam bentuk dokumentasi yang dapat diwariskan. Keterlibatan pemuda menjadi penting karena merekalah yang nantinya dapat meneruskan proses pencatatan dan pengarsipan tersebut ketika program KKN telah selesai.
Melalui "Ayo Wates Menulis", mahasiswa KKN-T IBDU 3 UNDIP berupaya menghadirkan literasi sebagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Remaja tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki cerita, pengetahuan, dan suara untuk disampaikan akan sejalan dengan semangat SDG 4 untuk memastikan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk melalui jalur pembelajaran nonformal di tingkat komunitas.
Program ini diharapkan tidak berhenti setelah mahasiswa KKN meninggalkan Desa Wates. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi awal bagi pemuda Karang Taruna Jurug untuk terus menulis, mengembangkan kelompok penelitian, serta mendokumentasikan berbagai pengetahuan mengenai dusun mereka. Dengan adanya proses yang berkelanjutan, tulisan-tulisan tersebut dapat berkembang menjadi kumpulan arsip, tulisan sejarah lokal, maupun dokumentasi kehidupan masyarakat Dusun Jurug.
Pada akhirnya, "Ayo Wates Menulis" membawa pesan bahwa setiap orang memiliki cerita, setiap cerita layak untuk didengar, dan setiap tulisan dapat menjadi arsip bagi masa depan. Dari Dusun Jurug, kegiatan menulis tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan perjuangan dan harapan remaja hari ini, tetapi juga menjadi pintu untuk terus menggali, meneliti, dan menjaga cerita masyarakat agar tetap hidup bagi generasi yang akan datang.
